Sambut Ramadhan 1439 H

Jelang Ramadhan SD Alam Muhammadiyah Melakukan Kerja bakti membersihkan Mushola di sekitar sekolah.

Pandu Hizbul Wathon SD Alam Muhammadiyah

Gerakan Kepanduan Hizbul Wathon merupakan ektrakurikuler wajib yang ada di SD Alam Muhammadiyah.

Ekskul PMR

Kunjungan langsung ke PMI Kabupaten Banjar.

Outing Class

Pembelajaran langsung di luar kelas.

Upacara Bendera

Pelaksanaan Upacara Bendera tiap Pagi Senin.

7.9.18

RANCANGAN KEGIATAN PEKAN MUHARAM 1435 H SD ALAM MUHAMMADIYAH KOTA BANJARBARU


RANCANGAN
KEGIATAN PEKAN MUHARAM 1435 H
SD ALAM MUHAMMADIYAH
KOTA BANJARBARU

 A.     LANDASAN PEMIKIRAN


Bulan Muharam merupakan bulan yang sangat bersejarah buat ummat Islam. Karena selain sebagai bulan pertama tahun Hijriyah, bulan Muharam juga menyimpan banyak sekali peristiwa bersejarah dan nilai / makna dalam rangka proses pembentukan pribadi muslim.Seiring perkembangan jaman, banyak fenomena penyebab keterpurukan umat islam yang terjadi sekarang ini, di antaranya, bergesernya nilai-nilai agama dan budaya dari umat Islam saat ini. Pergeseran nilai-nilai agama dan budaya yang dimaksud adalah perubahan perilaku sebagian besar umat islam dalam memperlakukan acara keagamaan dan kebudayaan yang sangat jauh berbeda antara generasi terdahulu dan generasi sekarang. Generasi terdahulu merayakan acara keagamaan dan kebudayaan dengan begitu sakral yang sangat dihormati.  Generasi sekarang mengganti nilai-nilai keagamaan itu dengan mengadopsi budaya dari luar yang tak terfilter, contoh yang paling menonjol sekarang adalah peringatan tahun baru yang sangat mengagungkan tahun baru Masehi atau tahun baru miladiyah dan merayakannya dengan kegiatan-kegiatan yang sejatinya bertentangan dengan ajaran Islam,. Sebaliknya peringatan tahun baru Islam atau tahun baru Hijriah saat ini mulai ditinggalkan oleh umat Islam itu sendiri. Bulan Muharam hampir semakin tidak bermakna, bahkan ironisnya, hanya segelintir orang yang tahu kapan dan peristiwa apa yang dapat diambil pada bulan Muharam tersebut.

Atas dasar itulah kami dari SD Alam Muhammadiyah, mencoba untuk mengingatkan  kembali hakikat dari peringatan tahun baru melaui suatu kegiatan yang dapat mengantarkan siswa / siswi kita untuk dapat meningkatkan kembali pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini dinamakan “Pekan Muharam 1435 H”, yang berisikan kegiatan lomba keterampilan dalam bidang pendidikan agama Islam. Besar harapan kami, melalui kegiatan lomba ini pula siswa dapat memiliki keterampilan dalam bidang keagamaan dan dapat mengisi waktu mereka dengan hal-hal yang positif, sesuai dengan ajaran Islam.

 

B.     NAMA KEGIATAN


Nama Kegiatan ini adalah: “PEKAN MUHARAM 1435 H SD ALAM MUHAMMADIYAH”


C.     TEMA KEGIATAN

Tema Kegiatan ini adalah: “Melalui Kegiatan Pekan Muharam Kita Cetak Generasi yang Sholeh, Cerdas dan Kreatif”


 

D.    TUJUAN KEGIATAN
1.     Menanamkan nilai-nilai Iman dan Taqwa kepada Allah SWT sebagai landasan pacu menuju akhlak yang terpuji, dalam rangka menghadapi era globalisasi
2.     Mengenang Sejarah Perkembangan Islam
3.     Memperkuat Ukhuwah Islamiyah antar siswa
4.     Menghidupkan syiar islam


E.     BENTUK KEGIATAN
1)    Lomba Tahfizul Quran
2)    Lomba Azan
3)    Lomba Puisi Islami
4)    Lomba Nasyid

F.     WAKTU DAN TEMPAT KEGIATAN

Waktu                  :  7 dan 10 September 2018
Tempat                 : SD Alam Muhammadiyah

Jum’at 7 September 2018
07.00
Tiba disekolah

07.30
Lomba Tahfizul Qur’an
Tahapan Seleksi
Peserta : seluruh siswa
Tempat : Diruang Kelas masing-masing
Dewan juri :  Guru Ngaji Morning/Tahfiz
Penanggung Jawab : Wali Kelas
Juara : 3 Terbaik Putra dan 3 Terbaik Putri tiap kelas

09.00
Kegiatan Hizbul Wathon

09.15
Kegiatan Pembelajaran (Normal)

11.00
Pulang




Senin, 10 September 2018

07.00

Tiba disekolah

07.30
Lomba Tahfiz
Tahap Final
Peserta : Pemenang Lomba hari Jum’at
Tempat : Ruang Kelas Ia, IIa, IIIa, IVa, Va, VIa
Dewan Juri : Guru Ngaji Morning/Tahfiz
Penanggung Jawab : Wali Kelas
Juara : 3 juara putra dan 3 juara putri tiap tingkat kelas



08.15
Lomba Puisi Islami
Peserta : Semua Siswa  Perempuan (gabung tiap tingkat kelas)
Tempat : Ruang Kelas Ia, IIa, IIIa, IVa, Va, Via
Juara : 3 Orang tiap tingkat kelas


Lomba Azan
Peserta : Semua Siswa laki-laki saja(gabung tiap tingkat kelas)
Tempat : Ruang Kelas Ia, IIa, IIIa, IVa, Va, Via
Juara : 3 Orang tiap tingkat kelas

Kelas 1
Juri : Riyadi + Tya Kurniawati
Penanggung Jawab : Riswan + Yessy

Kelas II
Juri : Noor Hapipah + Heni Pariatni
Penanggung Jawab : Nanda + Najib + Eni

Kelas III
Juri : Muhdlori + Armina
Penanggung Jawab : Nana + Supraheni + Syahida Latifah

Kelas IV
Juri : Desy + sultan
Penanggung Jawab : Syahid + amin

Kelas V
Juri : Umi + Miftah
Penanggung Jawab: Makky + Latifah + Rudi



Kelas VI
Juri : Sisma + Desi Ratnasari
Penanggung Jawab: Sani + ihda


12.00

Ishoma

12.45
Lomba Nasyid
Peserta :
-         masing-masing kelas menyiapkan 1 tim putra dan 1 tim putri
-         1 tim terdiri dari 5 orang siswa
-         Lagu pilihan :
1.     Sabyan Gambus:
Ø Ya Maulana
Ø Deen Assalam
Ø Ya Asyiqol
Ø Ya Habibal Qolbi
Ø Ya Jamalu
Ø Rohman Ya Rohman

Tempat : Kelas 1 ulin dan cemara (gabungan)
Dewan Juri :
-         Ustadzah ihda Ihromi
-         Ustadzah Noor Hapipah
Penanggung Jawab : Tim
Juara : 3 Tim terbaik


14.30
Pulang
15.30
Penataan Panggung
(semua Guru dan Karyawan SD Alam Muhammadiyah)

19.30
Sholat Isya Berjamaah

20.00
Acara Tabligh Akbar
(MC ustadzah Tya Kurniawati dan Ustadzah Eni Susilowati)
-         Pembukaan
-         Sambutan singkat :
1.     Kepsek
2.     Komite
3.     PCM
-         TABLIGH AKBAR (Ust Cilik Maulana)
-         Penampilan Pemenang Lomba
-         Pembagian Hadiah
-         Hiburan
-         Penutup



 




G.     PELAKSANA KEGIATAN

Penanggung jawab                   :   Kepala Sekolah

Wakil Penanggungjawab          :   Guru PAI

K e t u a                                   :   H. M. Makky, S.Pd.I

Sekretaris                                :   Abdus Syahid, S.Pd.I

Bendahara                               :   Aminnudin, S.Pd.I

Anggota                                   :  Semua Guru dan Karyawan SD Alam
                                                    Muhammadiyah

                                                                                  

H.    RENCANA ANGGARAN KEGIATAN

         Berasal dari Dana Operasional Sekolah dan Kegiatan Ekstrakurikuler



I.      PENUTUP

Demikian rancangan kegiatan ini kami buat. Kiranya Allah SWT senantiasa berkenan meridhai-Nya dan memaafkan atas kesalahan / kekurangannya. Amiin Ya Rabbal A’lamiina.

                                                                       Penyusun



                                                                   TIM PAI


20.8.18

Sikap dan Pandangan Muhammadiyah jika Arofah berbeda dengan Pemerintah Saudi

*Dikutip dari Muhammadiyah.id : Sikap dan Pandangan Muhammadiyah jika Arofah berbeda dengan Pemerintah Saudi*

Apakah Puasa Arafah harus dikerjakan bersamaan dengan jama’ah haji yang sedang berwukuf ?
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ
“Puasa hari Arofah aku berharap kepada Allah agar penebus (dosa) setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya” (HR Muslim no 197)

Kalangan ulama berbeda pendapat terkait dengan makna kalimat
  صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ َ
“Puasa hari Arofah…”.

Pendapat pertama mengatakan bahwa puasa Arafah adalah puasa yang dilaksanakan bersamaan dengan wukufnya para jama’ah haji di padang Arafah. 

Pendapat Kedua menyatakan bahwa puasa Arafah adalah puasa yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah sesuai dengan kalender bulan Dzulhijjah pada masing-masing wilayah. 

*Pembahasan dan Kajian:*

Masalah tersebut adalah masalah khilafiyah fiqhiyah, sehingga dibutuhkan adanya kelapangan dada untuk legowo dalam menghadapi permasalahan ini, tidak perlu ngotot apalagi menuduh orang yang berbeda pendapat dengan tuduhan yang tidak-tidak. Kita hadapi permasalahan tersebut dengan saling berlapang dada. Jika setiap permasalahan khilafiyah kita ngotot maka kita akan selalu ribut.

Permasalah tersebut pada dasarnya berangkat dari dasar yang sama, hanya berbeda dalam memahami teksnya saja. Jika seandainya Nabi saw. dalam hadits tersebut bersabda “Puasa Arafah lah kalian ketika para jam’ah haji sedang wukuf di padang Arafah”, tentu tidak akan muncul persoalan.

Akan tetapi karena sabda nabi saw. berbunyi
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ
“Puasa hari Arofah…”, maka muncullah perbedaan dalam memahami sabda Nabi tersebut, apakah maksudnya adalah “hari dimana para jama’ah haji sedang wukuf di Arafah”? ataukah yang dimaksud adalah “hari tanggal 9 Dzulhijjah, yang dinamakan dengan hari Arofah?”.

Alasan Pendapat Pertama:
Puasa Arafah adalah amalan yang disunnahkan bagi orang yang tidak berhaji.

Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ
“Puasa hari Arofah aku berharap kepada Allah agar penebus (dosa) setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya” (HR Muslim no 197)

Imam Nawawi dalam Al Majmu’ (6: 428) berkata, “Adapun hukum puasa Arafah menurut Imam Syafi‟i dan ulama Syafi‟iyah: disunnahkan puasa Arafah bagi yang tidak berwukuf di Arafah.

Adapun orang yang sedang berhaji dan saat itu berada di Arafah, menurut Imam Syafi‟ secara ringkas dan ini juga menurut ulama Syafi‟iyah bahwa disunnahkan bagi mereka untuk tidak berpuasa karena adanya hadits dari Ummul Fadhl.”
Ibnu Muflih dalam Al Furu‟ -yang merupakan kitab Hanabilah- (3: 108) mengatakan, “Disunnahkan melaksanakan puasa pada 10 hari pertama Dzulhijjah, lebih-lebih lagi puasa pada hari kesembilan, yaitu hari Arafah. Demikian disepakati oleh para ulama.”

Adapun orang yang berhaji tidak disunnahkan untuk melaksanakan puasa Arafah, berdasarkan Riwayat:
عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ بِنْتِ الْحَارِثِ أَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ فَشَرِبَهُ
“Dari Ummul Fadhl binti Al Harits, bahwa orang-orang berbantahan di Hari dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi shallallahu „alaihi wa sallam. Sebagian mereka mengatakan, „Beliau berpuasa.‟ Sebagian lainnya mengatakan, „Beliau tidak berpuasa.‟ Maka Ummul Fadhl mengirimkan semangkok susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta beliau, maka beliau meminumnya.” (HR. Bukhari no. 1988 dan Muslim no. 1123).

Juga hadits lain:
عَنْ مَيْمُونَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ النَّاسَ شَكُّوا فِى صِيَامِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ عَرَفَةَ ، فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِحِلاَبٍ وَهْوَ وَاقِفٌ فِى الْمَوْقِفِ ، فَشَرِبَ مِنْهُ ، وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ
“Dari Maimunah radhiyallahu „anha, ia berkata bahwa orang-orang saling berdebat apakah Nabi shallallahu „alaihi wa sallam berpuasa pada hari Arafah. Lalu Maimunah mengirimkan pada beliau satu wadah (berisi susu) dan beliau dalam keadaan berdiri (wukuf), lantas beliau minum dan orang-orang pun menyaksikannya.” (HR. Bukhari no. 1989 dan Muslim no. 1124).

Alasan Pendapat Kedua,
Menyatakan bahwa puasa Arafah adalah puasa yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah sesuai dengan kalender bulan Dzulhijjah pada masing-masing wilayah.
Pendapat yang ke dua inilah yang diikuti Majelis Tarjih PP Muhammadiyah.

*Pandangan Muhammadiyah terkait Puasa Arofah*

Muhammadiyah dalam hal ini memahami bahwa puasa Arafah adalah puasa yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah sesuai dengan kalender bulan Dzulhijjah pada di wilayah Indonesia sesuai dengan hasil perhitungan metode hisab wujudul hilal.

*Oleh karena itu, puasa Arafahnya tidak harus bersamaan dengan jama’ah haji yang sedang berwukuf di Arafah*, ketika terjadi perbedaan hari antara Muhammadiyah dan pemerintah Arab Saudi.
Beberpa argumentasi dapat dikemukakan untuk mendukung pemahaman Muhammadiyah tersebut, yaitu :

PERTAMA :
Rasulullah saw. telah menamakan puasa Arafah meskipun kaum muslimin belum melaksanakan haji, bahkan para sahabat telah mengenal puasa Arafah yang jatuh pada 9 dzulhijjah meskipun kaum muslimin belum melasanakan haji.
Dalam sunan Abu Dawud :
عَنْ هُنَيْدَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ امْرَأَتِهِ عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنْ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ
Dari Hunaidah bin Kholid dari istrinya dari sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada 9 Dzulhijjah, hari ‘Aasyuroo’ (10 Muharrom) dan tiga hari setiap bulan” (HR Abu Dawud)

Hadits di atas menunjukkan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terbiasa puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah.
Tatkala mengomentari lafal hadits yang berbunyi :”Orang-orang (yaitu para sahabat) berselisih tentang puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (tatkala di padang Arofah)”,

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “Ini mengisyaratkan bahwasanya puasa hari Arafah adalah perkara yang dikenal di sisi para sahabat, terbiasa mereka lakukan tatkala tidak bersafar. Seakan-akan sahabat yang memastikan bahwasanya Nabi berpuasa bersandar kepada kebiasaan Nabi yang suka beribadah. Dan sahabat yang memastikan bahwa Nabi tidak berpuasa berdalil adanya indikasi Nabi sedang safar” (Fathul Baari 6/268)

Perlu diketahui bahwa Nabi saw. hanya berhaji sekali yaitu pada saat haji wadaa’- dan ternyata Nabi dan para sahabat sudah terbiasa puasa di hari Arafah meskipun tidak ada dan belum terlaksananya wukuf di padang Arafah oleh umat Islam pada saat itu. Hal itu menujukan bahwa konsentrasi penamaan puasa Arafah tidak karena adanya orang sedang berwukuf di Arafah, tapi puasa yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah.

KEDUA :
Kita bayangkan bagaimana kondisi kaum muslimin -taruhlah- sekitar 200 tahun yang lalu, sebelum ditemukannya telegraph, apalagi telepon.

Maka jika puasa Arafah penduduk suatu negeri kaum muslimin harus sesuai dengan wukufnya jama’ah haji di padang Arafah, maka bagaimanakah puasa Arafahnya penduduk negeri-negeri yang jauh dari Makkah seperti Indonesia, India, Cina dll 200 tahun yang lalu? apalagi 800 atau 1000 tahun yang lalu?.

Demikian juga bagi yang hendak berkurban, maka sejak kapankah ia harus menahan untuk tidak memotong kuku dan mencukur rambut?, dan kapan ia boleh memotong kambing kurbannya?, apakah harus menunggu kabar dari Makkah? yang bisa jadi datang kabar tersebut berbulan-bulan kemudian?

KETIGA :
Jika memang yang ditujukkan adalah menyesuaikan dengan waktu wukufnya para jama’ah haji di padang Arafah (dan bukan tanggal 9 Dzulhijjah berdasarkan masing-masing negeri), maka bagaimanakah cara berpuasanya orang-orang di Sorong Irian Jaya, yang perbedaan waktu antara Makkah dan Sorong adalah 6 jam?.

Jika penduduk Sorong harus berpuasa pada hari yang sama -misalnya- maka jika ia berpuasa sejak pagi hari (misalnya jam 6 pagi WIT) maka di Makkah belum wukuf tatkala itu, bahkan masih jam 12 malam.

Dan tatkala penduduk Makkah baru mulai wukuf -misalnya jam 12 siang waktu Makkah-, maka di Sorong sudah jam 6 maghrib?. Lantas bagaimana bisa ikut serta menyesuaikan puasanya dengan waktu wukuf??

KEEMPAT :
Jika seandainya terjadi malapetaka atau problem besar atau bencana atau peperangan, sehingga pada suatu tahun ternyata jama’ah haji tidak bisa wukuf di padang Arofah, atau tidak bisa dilaksanakan ibadah haji pada tahun tersebut, maka apakah puasa Arafah juga tidak bisa dikerjakan karena tidak ada jama’ah yang wukuf di padang Arafah?

Jawabannya tentu tetap boleh dilaksanakan puasa Arafah meskipun tidak ada yang wukuf di padang Arafah. Ini menunjukkan bahwa puasa Arafah yang dimaksudkan adalah pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Maka barang siapa yang satu mathla’ dengan Makkah dan tidak berhaji maka hendaknya ia berpuasa di hari para jama’ah haji sedang wukuf di padang Arafah karean pada saat itu di Makkah sudah tanggal 9 Dzhulhijjah, akan tetapi jika ternyata mathla’nya berbeda -seperti penduduk kota Sorong- maka ia menyesuaikan 9 dzulhijjah dengan kalender di Sorong.
Intinya permasalahan ini adalah permasalahan khilafiyah.

Meskipun Muhammadiyah lebih condong kepada pendapat kedua -yaitu setiap negeri menyesuaikan 9 dzulhijjah berdasarkan kalender masing-masing negeri-, tetapi Muhammadiyah menyadari ada juga pendapat pertama yang tentu juga punya argumen kuat
Permasalahan seperti ini sangatlah tidak pantas untuk dijadikan ajang untuk saling memaksakan pendapat, apalagi menuding dengan tuduhan kesalahan manhaj atau kesalahan aqidah dan sebagainya.

Semoga Allah mempersatukan kita di atas ukhuwwah Islamiyah yang selalu berusaha untuk dikoyak oleh syaitan dan para pengikutnya.

*Kritik Muhammadiyah Atas Ketidakpastian Metode Rukyat*

Memang naif ketika bangsa Barat telah puluhan tahun lalu menginjakkan kaki di bulan, umat Islam di Indonesia kini masih meributkan soal penampakan bulan baru. Begitu kira-kira suara sebagian masyarakat.

Muhammadiyah sendiri tentu punya alasan mengapa lebih memilih metode hisab.

Penentuan bulan baru dengan rukyat dianggap sudah tidak relevan saat teknologi satelit dan ilmu astronomi berkembang pesat. “Penentuan bulan baru dengan rukyat dianggap sudah tidak relevan saat teknologi satelit dan ilmu astronomi berkembang pesat”

Bagaimanapun, rukyat tidak dapat memberikan suatu penandaan waktu yang pasti dan komprehensif.

Konsekuensinya, umat islam tidak bisa menata waktu pelaksanaan ibadah secara selaras di seluruh dunia. (lihat: Penjelasan Teknis Hisab Muhammadiyah).

Bagaimanapun Rukyat tidak dapat memastikan penanggalan jauh ke depan karena awal bulan hanya bisa diketahui pada H-1 melalui pengamatan langsung. Konsekuensinya umat Islam tidak akan punya kalender yang pasti.

Meski umat Islam banyak mengacu pada Kalender Ummul Qura yang juga secara resmi digunakan Saudi, namun dalam penentuan bulan-bulan ibadah masih menggunakan Rukyat sebagai acuan.
Akibatnya, rukyat tidak dapat menyatukan awal bulan Islam secara global.

Seperti kasus tahun 2014 lalu, pada hari yang sama ada muka bumi yang dapat melihat hilal (Saudi), tetapi ada muka bumi lain yang tidak dapat melihat (Indonesia).

Rukyat pada akhirnya justru memaksakan perbedaan umat Islam dalam menentukan hari raya.
“Akibatnya, rukyat tidak dapat menyatukan awal bulan Islam secara global”

Muhamamdiyah percaya, solusi problematika penetapan bulan Qamariah di kalangan umat Islam tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan penerimaan terhadap metode hisab dalam penetapan awal bulan Qamariah, sebagaimana penggunaan metode hisab untuk menentukan waktu-waktu shalat lima waktu.

Dengan metode hisab inilah Muhammadiyah menyatakan dapat menentukan hari raya untuk 100 tahun ke depan sebagaimana yang selama ini dapat dilakukan pada kalender Masehi (Gregorian calendar).

www.muhammadiyah.or.id

19.8.18

Tapak Suci Putra Muhammadiyah Raih 2 Nomer di Ajang "Berkat Bersujud Championship Cup 2018"



Awal agustus lalu, tepatnya tanggal 5-6 Agustus 2018 Tapak Suci Putra Muhammadiyah mengirimkan 8 atlit terbaiknya untuk mengikuti Kejuaraan "Berkat Bersujud Championship Cup 2018" yang bertempat di GOR Hasanuddin Banjarmasin.

Kejuaraan ini adalah kejuaraan yg diadakan oleh Perguruan Silat Kucing Hitam yg di sponsori oleh PT Berkat Bersujud. Peserta kali ini banyak di ikuti oleh berbagai macam perguruan yg ada di Kalimantan Selatan. Salah satunya adalah Tapak Suci Putra Muhammadiyah yang berasal dari SD Alam. 

Team Tapak suci SD Alam sendiri berangkat pada sabtu malam bersama 5 orang pelatih dan pendamping yaitu Ustadz Firman  Hadi (Kepala Sekolah),Ustadz Awaitullah, Ustad Makky, Ustad Najib, dan Pak Jefry selaku Ketua Komite yang memberi dukungan pada kegiatan ini.

Persiapan kali ini terbilang singkat. Karena para atlit hanya berlatih selama kurang lebih dua minggu. "Namun setelah pertandingan usai kami tetap terus berlatih untuk mempersiapkan kejuaraan-kejuaraan selanjutnya." Ungkap Ustadz Awaitullah.

Adapun atlit-atlit yang turun dikejuaraan kali ini adalah Ananda Rezki Khairian, Ananda Rasyid, Ananda Rifqi Hamdansyah, Ananda Rizky Fauzan, Ananda Awwab, Ananda Gt. Farras, Ananda Riza Rahman, Ananda Fitriansyah Akbar, dan satu-satunya atlit perempuan Ananda Arista (jurus tunggal).

Dari kedelapan atlit yang diturunkan, alhamdulillah Team Tapak Suci Putera Muhammadiyah meraih 2 nomer. Yaitu Ananda Riza Rahman mendapatkan Medali Perunggu di kelas A putra dan Ananda Fitriansyah Akbar mendapatkan Medali Perak di kelas B putra.

Ini tentunya menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar SD Alam Muhammadiyah. 


Poto 1. Persiapan sebelum keberangkatan

 Poto 2. Istirahat malam

 Poto 3. Latihan bersama

 Poto 4. Latihan bersama

Poto 5. Acara Pembukaan

18.8.18

Dalam Rangka Menyambut HUT RI Ke-73, SD Alam Muhammadiyah Gelar Berbagai Lomba dan Jalan Sehat


LANDASAN ULIN.Berbagai macam jenis perlombaan dilaksanakan dalam menyambut HUT RI Ke-73 kali ini, seperti lomba balap karung estafet, bakiak, tarik tambang, pipa bocor, dan dakon. Perlombaan tersebut menjadi suguhan yang meriah, karena selain memperebutkan hadiah, jalannya lomba juga bisa memberi hiburan tersendiri bagi peserta lomba maupun yang menyaksikannya.

Perlombaan diikuti oleh siswa/siswi dari kelas 1 sampai kelas 6. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari dimulai dari pukul 09.00 - 11.00. Sebelum mengikuti lomba,  siswa/siswi tetap melaksanakan kegiatan pagi seperti biasanya (ngaji morning, tahfidz, dan sholat dhuha).

Lomba-lomba ini dibagi menjadi beberapa season. Season pertama (Rabu,15 Agustus 2018) lomba balap karung estafet, pipa bocor, dan dakon. Season kedua (Kamis, 16 Agustus 2018) lomba tarik tambang dan bakiak. Season ketiga (Jumat,17 Agustus 2018) lomba tarik tambang khusus kelas 1 dan 2.

Di acara puncak pada tanggal 17 Agustus 2018, Komite Sd Alam Muhammadiyah juga mengadakan jalan sehat bersama keluarga dan membagikan 1 buah sepeda pixy sebagai doorprize utama. "Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan rasa kebangsaan, persatuan dan kesatuan, selain itu kita juga dapat mempererat hubungan silaturrahmi antara Orang tua, Pelajar dan Pengajar, serta sekaligus dapat mensiarkan semangat gotong royong."Jelas Pak Jefry selaku Ketua Komite.

Pagi-pagi sekali, sebelum jalan sehat bersama keluarga di mulai SD Alam Muhammadiyah juga melaksanakan Upacara Peringatan HUT RI ke-73 di halaman sekolah. Berbeda dari upacara biasanya karena kali ini diikuti oleh para siswa, orangtua, dan para ustadz dan ustadzah sebagai petugas upacara.



















16.8.18

Undangan Silaturrahim

Dimohon kehadirannya kepada seluruh dewan guru dan karyawan untuk menghadiri unfangan silaturahim bersama Pimpinan Cabang Muhammadiyah Landasan Ulin

15.8.18

"Market Day" Ruang Untuk Siswa Belajar Berwirausaha




Banjarbaru ~ 13 Agustus 2018, Senin yang berbeda dari biasanya karena siswa/siswi kelas 6 SD Alam Muhammadiyah melaksanakan kegiatan "Market Day". Kegiatan ini merupakan kali pertama di tahun ajaran baru. Dan tentunya semua warga sekolah ikut memeriahkan kegiatan ini.

Market Day adalah program rutin yang dilakukan SD Alam Muhammadiyah guna melatih siswa/siswinya untuk belajar  berwirausaha. Kegiatan ini berlangsung di lapangan sekolah pada saat jam istirahat pertama. Barang - barang yang di jual kali ini adalah aneka jenis  makanan dan minuman yang tentunya menyehatkan.

Berikut adalah beberapa foto kegiatannya :